Feb 6, 2012

Seminar Menuju Guru Abad 21

“ Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Ekonomi/ Akuntansi Sebagai Upaya Mewujudkan Generasi Anti Korupsi : Let’s Kick KORUPSI out of Indonesia”

A. LATAR BELAKANG
Praktek korupsi yang semakin menjamur di negara Indonesia, menjadikan negeri ini terkenal dengan sebutan Negara Korupsi. Hal ini diibuktikan dengan indeks korupsi di negara kita yang semakin tinggi, dimana posisi terakhir mengindikasikan negara Indonesia sebagai Negara terkorup ke-3 se dunia. Pertanyaan besarnya adalah jika posisi Indonesia hari ini adalah urutan ketiga, maka bagaimana posisi negara kita 5, 10, 15 atau 20 tahun kedepan ?
Disisi lain, berbicara korupsi pasti akan bersinggungan dengan uang, bisnis dll. Dalam dunia pendidikan hal-hal berkaitan dengan uang, bisnis akan besentuhan dengan pelajaran ekonomi dan akuntansi. Jika pelajaran ekonomi/ akuntansi ini dikatakan sukses dan siswa memahami betul konsep-konsep dasar dan memperoleh nilai yang baik, maka pertanyaannya mengapa ketika para lulusan ini telah bekerja, menjadi pejabat daerah, penguasa negeri ini mereka malah melakukan korupsi ? apakah ini ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Atau masih ada yang kurang dan belum disampaikan pada saat proses pembelajaran ekonomi/ akuntansi berjalan ?
Beberapa riset mengindikasikan bahwa perilaku tidak etis dalam hal ini perbuatan korupsi yang terjadi selama ini dan dilakukan oleh para profesional (akuntan, praktisi perpajakan, pejabat keuangan dll) dipengaruhi oleh dunia pendidikan yang mereka tempuh. Jika kita sepakat dengan hasil ini maka kesimpulan yang dapat diambil adalah dunia pendidikan (perguruan tinggi, sekolah) berperan penting dalam terjadinya proses perilaku tidak etis dari para lulusannya di kemudian hari.
Kebijakan penerapan pendidikan karakter oleh Kemendikbud untuk diterapkan pada semua mata pelajaran tidak hanya Pendidikan agama atau Pendidikan Kewarganegaraan berdampak pada mesti diterapkannya penanaman nilai-nilai karakter yang luhur pada pembelajaran ekonomi/ akuntansi. Jika kebijakan ini disinergikan dengan penuntasan permasalahan di atas (korupsi) maka bisa kita bayangkan dan kita yakini bahwa penanaman nilai-nilai karakter dengan fokus pada nilai-nilai anti korupsi dalam pembelajaran ekonomi/ akuntansi di dunia pendidikan dapat menciptakan para lulusan yang memiliki nilai anti karakter yang tinggi sehingga tidak berlebihan jika generasi ini menjadi pemimpin negeri ini, maka Indonesia akan menajdi negara yang bebas dari korupsi.
Atas dasar hal diatas, maka seminar ini diadakan. Pengenalan kepada para guru dan calon guru ekonomi/ akuntansi atas pendidikan karakter, korupsi dan pendidikan anti korupsi memberikan pemahaman yang kuat, sehingga ketika dibawa dalam kelas maka para siswa akan terbentuk menjadi manusia yang berkarakter, memiliki etika yang baik dan say no to corrupt.

B. KELUARAN YANG DIINGINKAN

Tujuan Pelaksanaan seminar ini ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta berkaitan dengan hal pendidikan karakter, korupsi dan pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran ekonomi/ akuntansi.Sesuai dengan tujuan tersebut, maka kegiatan seminar ini diharapkan mampu mencapai tujuan sebagai berikut:
1. Memetakan permalahan korupsi di Indonesia selama ini.
2. Menetapkan poin-poin penting yang dianggap prioritas untuk dilakukan oleh para guru berkaitan dengan implementasi pendidikan karakter (anti korupsi) dalam pembelajaran di kelas.
3. Guru sebagai fasilitator dalam kelas, dapat menyusun model perencanaan pengajaran di kelas yang berkarakter nilai-nilai anti korupsi yang kuat

C. STRATEGI DAN METODE
Pemaparan, tanya jawab, dan diskusi.

D. JUMLAH DAN LATAR BELAKANG PESERTA
1. Ketua MGMP Ekonomi dan akuntansi se Jawa barat
2. Guru ekonomi/ akuntansi
3. mahasiswa.
4. Umum

E. WAKTU DAN TEMPAT
Seminar ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 18 Februari 2012 di Auditorium JICA FPMIPA UPI. Adapun biaya pendaftaran hanya Rp. 50.000 saja.

F. PERMASALAHAN YANG DIBICARAKAN

1. Korupsi di Indonesia
2. Sistematika pencegahan korupsi di Indonesia
3. Pendidikan Karakter
4. Pendidikan anti korupsi
5. Implementasi pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi dalam pembelajaran ekonomi/ akuntansi

G. PEMBICARA

Keynote Speaker
Ir. Irfan Suryanegara (Ketua DPRD Jawa Barat) : “Korupsi, pendidikan anti korupsi : Membangun masyarakat Jawa Barat menuju Generasi Anti Korupsi “

PEMBICARA SESI KESATU :
1. Drs. Teten Masduki (Transparancy International)
Materi : “POTRET KORUPSI DI INDONESIA : How Education can Fix it ? “
2. Pimpinan KPK (dlm confirm)
Materi : “POTRET KORUPSI DI INDONESIA FROM A to Z : Kenapa bisa terjadi ?”

3. Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd
Materi : “ PENDIDIKAN KARAKTER dan IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI “.

PEMBICARA SESI KEDUA :
4. Prof. Siswandari (UNS)
Materi : “ IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER (ANTI KORUPSI) DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI MENUJU GENERASI ANTI KORUPSI
5. Dra. Diah Harianti, M.Psi (Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud)
Materi : “ KURIKULUM PEMBELAJARAN EKONOMI BERKARAKTER ANTI KORUPSI
6. ICW
Materi : “ PENDIDIKAN ANTI KORUPSI, PERLUKAH ?

Feb 4, 2012

E-BOOK AKUNTANSI MANAGEMEN

Saya ingin memberikan pemahaman kepada Anda mengenai perbedaan antara Akuntasi Keuangan (Financial Accounting) dengan Akuntansi Manajemen (Management Accounting). Akuntansi Keuangan terdiri dari: Pemakai (internal dan eksternal). Laporan keuangan. Secara periodik (tahunan/bulanan). Diatur / dibatasi oleh standard akuntansi keuangan. Ekonomi. Laporan masa lalu (harga dasar adalah Cost). Akuntansi manajemen: (Pemakainya) Intern. Laporan khusus. Laporan harian. Tidak dibatasi oleh standard akuntansi keuangan. Ekonomi dan psikologi. Laporan untuk kebutuhan masa yang akan datang seperti ROI, dan 4 kebutuhan lainnya yang harus bisa kita tentukan / analisa seperti: - Pusat Biaya (Cost Center). - Pusat Laba (Profit Center). - Pusat investasi (Investment Center) seperti manajemen proyek / pengembangan dan bisnis.[BR] Pusat Pendapatan (pemasaran dan penjualan).

Ni buat temen-temen yang ingin e-book akuntansi managemen dari pa ajang.
Silahkan download disini






Oct 23, 2011

Sudahkah kita menjadi orang yang ber “Ilmu”…….?

Terkadang atau sering dalam hidup, kita berusaha memaafkan tindakan kita atau kata lainnya melegalisasikan perbuatan kita. Maksudnya, kita mengatakan perbuatan kita benar dengan dalih yang berusaha kita cari kebenarannya. Sebagai contoh, ketika kita menunda melaksanakan sholat ketika adzan berkumandang, maka kita berdalih “Saya harus menyelesaikan tugas, bukankah kerja juga ibadah….?” atau  “Saya harus mengasuh anak dulu, bukankah ini juga ibadah?” dan lain sebagainya sehingga begitu pintarnya kita mendapatkan alasan yang seolah alasan kitalah yang paling benar. Atau cerita lain seperti seorang pencopet atau pelacur yang melegalkan usahanya demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dengan alasan mencari nafkah merupakan ibadah…!?
Akhir-akhir ini saya banyak menemui fenomena, yang membuat saya berasumsi bahwa kadang seseorang tidak faham ilmu yang sedang dipelajarinya. Untuk apa ilmu itu digunakan? Akan bagaimana bila mengamalkan ilmu itu? Fenomena klasik, tapi tetap membuat saya tidak habis fikir.
Belajar, mencari ilmu kadang di jadikan formalitas belaka. Karena prestise, harga diri, atau bahkan desakan dari pihak orang lain, orang tua, suami, istri, atasan di kantor, misalnya. Pada akhirnya ilmu tidak mengkristal di dalam diri. Tidak meninggalkan bekas. Bahkan mungkin,  tidak menjadikan diri lebih baik. Terdengar skeptis? Ya, bisa jadi.
Ilmu kadang hanya di ukur dari gelar-gelar yang berderet panjang pada nama. Di ukur dari jumlah koleksi buku. Di ukur dari jumlah biaya yang dikeluarkan. Diukur dari image sebuah kampus. Entah apakah bisa ilmu itu di jadikan manfaat , bahkan pada dirinya sendiri. Masih bisa di hitung dengan jari orang-orang yang benar-benar konsekuen dan bertanggung jawab dengan ilmu yang di  milikinya. 
Orang yang berilmu memang sangat kelihatan berbeda dengan dengan orang yang beruang, orang kaya tanpa disertai ilmu hanya akan disegani sejenak, tapi orang kaya disertai ilmu akan terus disegani meskipun kekayaannya habis, karena ilmunya telah menghiasi perbuatannya serta tingkahlakunya.
Ilmu berbeda dengan Pengetahuan. Orang yang berilmu adalah orang yang mengaplikasikan ilmu yang ia dapatkan dalam kehidupannya. sedangkan orang yang berpengetahuan hanya akan memiliki pengetahuan tentang keilmuan tanpa adanya tindakan sehingga ilmu yang ia miliki tidak tercermin dalam tingkah lakunya.
Dari penomena di atas sepintas orang sudah memperoleh “Ilmu”, tapi hakikatnya baru memperoleh “Pengetahuan” saja 
Didalam melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa berbuat maksiyat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan bahagia kehidupan keluarganya.
Semakin seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.
Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.
Permasalahan awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok, akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah mobil tersebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw: 
“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang: kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang amat pedih.” (HR. Tirmidzi)
Salah satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran digunakan agar manusia semakin ingat.
Jadi, mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin yakin.
Ilmu, pada hakikatnya dapat merubah seseorang. Dari pola berfikir, sikap, hingga merubah diri orang tersebut.
Iman, Ilmu, Amal. Sebuah trilogi yang tidak dapat di pisahkan. Saling terkait.
Iman tanpa ilmu, sesat. Ilmu tanpa Amal, sesat. Amal tanpa ilmu, taklid.
menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.
 
Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pencari ilmu membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma’rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz min al-dhalal) Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akherat. Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka, Rasulullah saw., bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)
Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan. “Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah”, demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: “Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah”. 
  Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa ‘kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah’, berarti bahwa “Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya”. (Ihya’ ‘Ulumiddin)
Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa diterapkan adalah junun (gila) dan penerapan apapun tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar. Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta’dib. Ta’dib berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik. Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.
Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta.
 
 
Akhirnya semoga kita dapat menjadi orang berilmu dan bermanfaat. karena dengan ilmu terangkatlah derajat dan dengan pengabdian menjadilah orang bermanfaat. 
 
 
SUMBER : http://smk6bandung.com/?p=628

Oct 13, 2011

Kuliah Umum Entrepreuneur HIMADIKSI "The Power of Kepepet"

 
HIMADIKSI UPI present!
Mau jadi Entrepreneur sejati?
Ikut yuu Talkshow Entrepreneur bersama Jaya Setiabudi!
Jaya Setiabudi seorang penulis buku Best Seller "The Power of Kepepet", seorang pendiri Young Entrepreneur Academy dan Entrepreneur Camp serta seoarang PROVOKATOR Entrepreneur.
Hari, tgl : Rabu, 19 Oktober 2011
Waktu : 13.00-16.00 WIB
Tempat : Gd. Amply Theatre (eks. Gedor) 

Pendaftaran via SMS ketik:
Daftar_nama_jurusan_angktan_no. kontak.
kirim ke 0853 1403 0926 (Ai Teti)
CP : 0821 1501 6269 (Ria) 

AYOO N BURUAANN GABUNGG..!!!
GRAAATIIIIISSS...!!!
TEMPAT TERBATAS...!!!

Sep 23, 2011

DIKSI PRENEUR PRESENT 2011



Tertarik menjadi seorang pebisnis? 
Bagaimanakah caranya? 
Sudah punya bisnis tapi... ingin tau bagaimana tips dan trik mendongkrak usaha Anda? 
 

Yuk cari tau ilmu-ilmunya di acara SEMINAR DIKSIPRENEUR "CARA DAHSYAT TERCEPAT DAN TERAMPUH JADI ENTREPRENEUR" 8 Oktober 2011. Mengundang 3 pembicara yang LUARRRRR BIASAAAA:

 
1. Jaya Setiabudi (Jaya Yea / @JayaYEA) --- Penulis buku BEST SELLER "The Power of Kepepet", Pendiri Young Entrepreneur Academy, Entrepreneur Camp & Entrepreneur Association, Pengusaha Sukses, Mentor bisnis & usaha, Provokator Entrepreneur


2. Fauzi Rachmanto (@FauziRachmanto) --- Founder System Design Group Indonesia, Pengusaha IT, Penggerak Komunitas Tangan Di Atas

3. Rendy Saputra (@kangrendy) --- Direktur Saputra Empire Business Group (Bimbel NATC, Kuliner, Lembaga Pelatihan dan Training Saputra Inspira), Presiden Direktur Darusy Syabab


Investasi: hanya 80rb (Gratis 1 tiket bagi yang membawa 10 pendaftar)
Fasilitas: Seminar Kit, Snack, Lunch, Sertifikat, Hiburan, kesempatan mendapatkan DOORPRIZE (2 Voucher "Entrepreneur Camp" senilai 1.000.000, 10 buah buku "The Power of Kepepet", dan masih banyak lagi)

Tempat: Balai Pertemuan UPI (Jl.Dr Setiabudhi No.229 Bandung)
Terbuka untuk UMUM

Pendaftaran: Diksi_Nama Lengkap_Nomor Kontak_Asal

Info: 082115016269 (Ria)
085222022294 (Aulia)
Lihat Selengkapnya


 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates