Feb 6, 2012
Feb 4, 2012
E-BOOK AKUNTANSI MANAGEMEN
Saya ingin memberikan pemahaman kepada Anda mengenai perbedaan antara
Akuntasi Keuangan (Financial Accounting) dengan Akuntansi Manajemen
(Management Accounting).
Akuntansi Keuangan terdiri dari:
Pemakai (internal dan eksternal).
Laporan keuangan.
Secara periodik (tahunan/bulanan).
Diatur / dibatasi oleh standard akuntansi keuangan.
Ekonomi.
Laporan masa lalu (harga dasar adalah Cost).
Akuntansi manajemen:
(Pemakainya) Intern.
Laporan khusus.
Laporan harian.
Tidak dibatasi oleh standard akuntansi keuangan.
Ekonomi dan psikologi.
Laporan untuk kebutuhan masa yang akan datang seperti ROI, dan 4
kebutuhan lainnya yang harus bisa kita tentukan / analisa seperti:
- Pusat Biaya (Cost Center).
- Pusat Laba (Profit Center).
- Pusat investasi (Investment Center) seperti manajemen proyek /
pengembangan dan bisnis.[BR]
Pusat Pendapatan (pemasaran dan penjualan).
Ni buat temen-temen yang ingin e-book akuntansi managemen dari pa ajang.
Silahkan download disini
Oct 23, 2011
Sudahkah kita menjadi orang yang ber “Ilmu”…….?
Terkadang
atau sering dalam hidup, kita berusaha memaafkan tindakan kita atau
kata lainnya melegalisasikan perbuatan kita. Maksudnya, kita mengatakan
perbuatan kita benar dengan dalih yang berusaha kita cari kebenarannya.
Sebagai contoh, ketika kita menunda melaksanakan sholat ketika adzan
berkumandang, maka kita berdalih “Saya harus menyelesaikan tugas,
bukankah kerja juga ibadah….?” atau “Saya harus mengasuh anak dulu,
bukankah ini juga ibadah?” dan lain sebagainya sehingga begitu pintarnya
kita mendapatkan alasan yang seolah alasan kitalah yang paling benar.
Atau cerita lain seperti seorang pencopet atau pelacur yang melegalkan
usahanya demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dengan
alasan mencari nafkah merupakan ibadah…!?
Akhir-akhir
ini saya banyak menemui fenomena, yang membuat saya berasumsi bahwa
kadang seseorang tidak faham ilmu yang sedang dipelajarinya. Untuk apa
ilmu itu digunakan? Akan bagaimana bila mengamalkan ilmu itu? Fenomena
klasik, tapi tetap membuat saya tidak habis fikir.
Belajar,
mencari ilmu kadang di jadikan formalitas belaka. Karena prestise,
harga diri, atau bahkan desakan dari pihak orang lain, orang tua, suami,
istri, atasan di kantor, misalnya. Pada akhirnya ilmu tidak mengkristal
di dalam diri. Tidak meninggalkan bekas. Bahkan mungkin, tidak
menjadikan diri lebih baik. Terdengar skeptis? Ya, bisa jadi.
Ilmu
kadang hanya di ukur dari gelar-gelar yang berderet panjang pada nama.
Di ukur dari jumlah koleksi buku. Di ukur dari jumlah biaya yang
dikeluarkan. Diukur dari image sebuah kampus. Entah apakah bisa ilmu itu
di jadikan manfaat , bahkan pada dirinya sendiri. Masih bisa di hitung
dengan jari orang-orang yang benar-benar konsekuen dan bertanggung jawab
dengan ilmu yang di milikinya.
Orang
yang berilmu memang sangat kelihatan berbeda dengan dengan orang yang
beruang, orang kaya tanpa disertai ilmu hanya akan disegani sejenak,
tapi orang kaya disertai ilmu akan terus disegani meskipun kekayaannya
habis, karena ilmunya telah menghiasi perbuatannya serta tingkahlakunya.
Ilmu berbeda dengan Pengetahuan.
Orang yang berilmu adalah orang yang mengaplikasikan ilmu yang ia
dapatkan dalam kehidupannya. sedangkan orang yang berpengetahuan hanya
akan memiliki pengetahuan tentang keilmuan tanpa adanya tindakan
sehingga ilmu yang ia miliki tidak tercermin dalam tingkah lakunya.
Dari penomena di atas sepintas orang sudah memperoleh “Ilmu”, tapi hakikatnya baru memperoleh “Pengetahuan” saja
Didalam
melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa
beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa
berbuat maksiyat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus
kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah
ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan
bahagia kehidupan keluarganya.
Semakin
seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin
banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan
hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah
kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.
Salah
satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan
berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah
jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa
beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu
tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali
seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.
Permasalahan
awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam
memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan
ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok,
akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah
mobil tersebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga
sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah
ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk
menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw:
“Bersegeralah
untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah
akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang:
kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi
batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian
yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang
ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang
amat pedih.” (HR. Tirmidzi)
Salah
satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah
dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala
hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan
bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib
untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau
ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu
secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran
digunakan agar manusia semakin ingat.
Jadi,
mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan
ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin
yakin.
Ilmu, pada hakikatnya dapat merubah seseorang. Dari pola berfikir, sikap, hingga merubah diri orang tersebut.
Iman, Ilmu, Amal. Sebuah trilogi yang tidak dapat di pisahkan. Saling terkait.
Iman tanpa ilmu, sesat. Ilmu tanpa Amal, sesat. Amal tanpa ilmu, taklid.
menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.
Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pencari ilmu membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma’rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz min al-dhalal) Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akherat. Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka, Rasulullah saw., bersabda: “Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)
Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan. “Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah”, demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: “Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah”.
Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa ‘kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah’, berarti bahwa “Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya”. (Ihya’ ‘Ulumiddin)
Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa diterapkan adalah junun (gila) dan penerapan apapun tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar. Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta’dib. Ta’dib berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik. Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.
Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta.
Akhirnya
semoga kita dapat menjadi orang berilmu dan bermanfaat. karena dengan
ilmu terangkatlah derajat dan dengan pengabdian menjadilah orang
bermanfaat.
SUMBER : http://smk6bandung.com/?p=628
Kategori: PendidikanOct 13, 2011
Kuliah Umum Entrepreuneur HIMADIKSI "The Power of Kepepet"
HIMADIKSI UPI present!
Mau jadi
Entrepreneur sejati?
Ikut yuu Talkshow Entrepreneur bersama Jaya
Setiabudi!
Jaya Setiabudi seorang penulis buku Best Seller "The
Power of Kepepet", seorang pendiri Young Entrepreneur Academy dan
Entrepreneur Camp serta seoarang PROVOKATOR Entrepreneur.
Hari, tgl : Rabu, 19 Oktober 2011
Waktu : 13.00-16.00 WIB
Tempat : Gd. Amply Theatre (eks. Gedor)
Pendaftaran via SMS
ketik:
Daftar_nama_jurusan_angktan_no. kontak.
kirim ke 0853 1403 0926 (Ai
Teti)
CP : 0821 1501 6269 (Ria)
Kategori: Program KerjaSep 23, 2011
DIKSI PRENEUR PRESENT 2011

Yuk cari tau ilmu-ilmunya di acara SEMINAR DIKSIPRENEUR "CARA DAHSYAT TERCEPAT DAN TERAMPUH JADI ENTREPRENEUR" 8 Oktober 2011. Mengundang 3 pembicara yang LUARRRRR BIASAAAA:
1. Jaya Setiabudi (Jaya Yea / @JayaYEA) --- Penulis buku BEST SELLER "The Power of Kepepet", Pendiri Young Entrepreneur Academy, Entrepreneur Camp & Entrepreneur Association, Pengusaha Sukses, Mentor bisnis & usaha, Provokator Entrepreneur
2. Fauzi Rachmanto (@FauziRachmanto) --- Founder System Design Group Indonesia, Pengusaha IT, Penggerak Komunitas Tangan Di Atas
3. Rendy Saputra (@kangrendy) --- Direktur Saputra Empire Business Group (Bimbel NATC, Kuliner, Lembaga Pelatihan dan Training Saputra Inspira), Presiden Direktur Darusy Syabab
Investasi: hanya 80rb (Gratis 1 tiket bagi yang membawa 10 pendaftar)
Fasilitas: Seminar Kit, Snack, Lunch, Sertifikat, Hiburan, kesempatan mendapatkan DOORPRIZE (2 Voucher "Entrepreneur Camp" senilai 1.000.000, 10 buah buku "The Power of Kepepet", dan masih banyak lagi)
Tempat: Balai Pertemuan UPI (Jl.Dr Setiabudhi No.229 Bandung)
Terbuka untuk UMUM
Pendaftaran: Diksi_Nama Lengkap_Nomor Kontak_Asal
Info: 082115016269 (Ria)
085222022294 (Aulia) Lihat Selengkapnya
Oleh : Ria Nurfitriani Dewi
Kategori: Program Kerja






















